Minggu, 24 Januari 2010

Meng”hemat” Energi


Waktu itu tepat pukul 12 siang, matahari tampil mengganas tanpa tirai awan. Ubun-ubun di bawah tulang tengkorakku terasa berdenyut-denyut. Kepulan asap yang menyembul dari mulut knalpot kendaraan membuat nafasku sesak. Sesekali angin turut menghamburkan butiran debu ke wajahku.
Aku berharap semoga di langit atas tak ada bolongan lapisan ozon.
Dalam balutan pakaian serba hitam─yang kusesali siang ini─kupercepat langkah di jalanan padat manusia dan kendaraan itu. Pikiranku berpusar pada satu tujuan; segera sampai di mesin ATM yang berlokasi di depan gedung rektorat UNP. Perutku meringis sejak pagi tadi. Maklum saja, dompet mahasiswaku hanya berisi dua lembar uang ‘Kapitan Pattimura’.
Sebenarnya, aku bisa memilih menyewa jasa ojek yang begitu populer di kampusku. Banyak mahasiswi yang senang menggunakannya. Tapi lain denganku, satu hal yang masih kubanggakan bahwa aku tak pernah sekalipun memanggil jasa ojek selama hampir tiga semester kuliah.
Di depan kampus Magister Manajemen (MM), aku berpapasan dengan seorang bule. Style-nya mirip profesor dari Universitas Melbourne. Postur tubuhnya tinggi besar. Perutnya juga kelihatan membulat. Ia mengenakan kacamata lensa. Potongan rambutnya ikal seperti Andrea Hirata, tetapi berwarna pirang keputih-putihan. Begitu pula kumis yang nyaris menutupi seluruh bibirnya, memutih. Namun, kulit wajahnya merah bak kulit bayi.
Aku memandanginya dan si Profesor tersenyum. Tulus, akupun memamerkan sederetan gigi putih cemerlang plus anggukan penghormatan. Entah kenapa, muncul perasaan malu saat sebuah sepeda motor mengebut melintas di sebelah kami. Meninggalkan kepulan hitam asap knalpot yang berbau tak sedap. Lalu menyusul satu sepeda motor lagi. Dua… Tiga… Sepuluh...
Aku semakin malu saat kami bergerak menjauh. Inikah kondisi saat ini? Indonesia seolah tak ingin kalah gencar beremisi setelah AS dan China. Di saat pohon-pohon meranggas demi gedung-gedung metropolitan. Di saat ia gencar pula melantunkan yel-yel anti-Global Warming.
Di manakah masyarakat yang hemat energi itu? Apakah pengertian hemat energi sudah berbeda? Berhemat kalori tubuh hanya demi menjangkau jarak tak lebih dari satu kilometer? (*)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More