Minggu, 24 Januari 2010

Maaf, Aku Pergi


Kali kedua di hari ini, Selasa (9/12), lima butir soal ujian Kimia Anorganik I memukul-mukul martilnya di otakku yang lunak. Aku membatin, ini benar-benar kelanjutan dari hari sebelumnya. Hari di mana pengerjaan ujian Kimia Analitik-ku hancur berantakan, alias mencapai entropi (derajat kehancuran)
optimum. Aku begitu nelangsa. Hasrat untuk melirik kiri-kanan pun kupendam, seiring lenyapnya panggilan-panggilan gaib yang mendesing dari arah belakang.
Konsentrasiku terpecah. Lebih tepatnya terbelah dan terpotong-potong. Potongan-potongan itu menari-nari di Puncak Mahameru. Turun beramai-ramai ke jalanan. Berdemo di depan gedung MPR-RI. Hingga akhirnya berlari kencang menuju rumah sakit jiwa. Oh, Tuhan... Adakah jawaban soal-soal ini Engkau turunkan dari tujuh lapis Langit-Mu di siang nan cerah ini?
Lima menit terakhir, kukumpulkan kertas jawaban berikut kertas soalnya. Tulisanku yang biasanya mirip kaligrafi kini tak mengukir indah selembar doublefolio itu. Aku mulai berjalan keluar dari Lokal Alternatif (LA) tempat ujian tadi. Lokal bersekat tripleks dan beratap seng itu memang sengaja dibangun di lapangan parkir kampus FMIPA UNP pascagempa. Gontai. Senyap-senyap kudengar suara berisik teman-temanku yang saling tumpang tindih. Membahas ujian barusan.
Langkah kakiku sepertinya sudah terbiasa membawaku pulang ke asrama puteri UNP. Asrama yang sudah kutinggali selama lebih dari setahun terakhir. Asrama yang penuh diisi dengan tawa dan air mata. Aku sudah berjarak beberapa meter dari pintu ketika kemudian aku tersadar. Rumahku bukan di sini. Bukan lagi. Di pintu itulah teman-temanku terisak. Tak mengizinkan aku pergi. Namun, ketika itu aku tak bergeming dan terus berlalu.
Ya. Aku memilih pindah dari asrama karena perbedaan pandangan. Aku keberatan dengan sistem Orientasi Pengenalan Kehidupan (Ospek) asrama yang kembali dilaksanakan tahun ini. Perbedaan itu nampaknya membawaku ke posisi sudut. Terpojok oleh pernyataan-pernyataan mereka. Padahal, aku hanya ingin reformasi, lebih sederhananya, sedikit perubahan kecil. Tapi mereka tak mengerti.
Aku masih ingat saat-saat itu. Masih terpatri di memoriku. Tahun di mana aku dan teman-temanku masih diperlakukan layaknya junior. Kami yang saling berbagi sedih di tiap tengah malam selama lima hari ospek. Di kamar yang luasnya tak lebih dari 3 x 3 meter persegi. Kami pernah berkomitmen, tak akan mengulangi hal yang sama. Setidaknya dalam beberapa hal. Namun, semua agaknya tinggal ucapan.
Mungkin memang aku yang rapuh. Barangkali juga aku yang salah. Aku pergi secara mendadak tanpa memberi penjelasan yang jelas. Sebutir penyesalan mengganjal di dadaku kini. Tapi aku tak ingin terus menerus lemah. Aku harus memiliki tiang kokoh agar bisa berdiri tegak. Berpegang pada prinsip.
Hati, aku titip sahabatku bersamamu. Biarlah Sang Waktu terus menggulirkan detiknya. Menjawab kerisauan meski tanpa kepastian. Memberi kesempatan bagi sahabatku. Dan aku. Untuk mengerti...

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More