Pandanganku lurus ke depan. Kuamati tiap kelok jalan raya. Meliuk-liuk menyambut matahari yang tengah merangkak naik. Siluet dedauan pohon membayang-bayang di kaca spion ketika mobil melewati jalan aspal sempit. Sesaat kualihkan perhatian ke cantolan boneka mini di kaca mobil, bergoyang-goyang dengan amplitudo tak tentu.
Kemudian ke jam digital di dasbor, 09.30. Aku sudah terlambat setengah jam.
Kemudian ke jam digital di dasbor, 09.30. Aku sudah terlambat setengah jam.
“Adek mau ke mana?” tanya Bangsop tiba-tiba saat mobil memasuki kawasan perumahan, atau mungkin perkampungan. Kelihatannya heran.
Pede. Aku menjawab,
“Ke kampus Unand pusat, Bang.” Awalnya kupikir Bangsop (Bang Sopir) akan bertanya lagi, “Kuliah? Kan hari Minggu?” atau “Dari mana? Ada acara apa?” Lalu aku akan bilang dengan jawaban yang bisa dikatakan cukup membanggakan, “Acara Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar, Bang.” Ternyata bukan. Duhhh, kepedean…
“Ke kampus Unand pusat, Bang.” Awalnya kupikir Bangsop (Bang Sopir) akan bertanya lagi, “Kuliah? Kan hari Minggu?” atau “Dari mana? Ada acara apa?” Lalu aku akan bilang dengan jawaban yang bisa dikatakan cukup membanggakan, “Acara Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar, Bang.” Ternyata bukan. Duhhh, kepedean…
“Loh? Adek salah naik. Bukan angkot ini, Dek.” Kulihat alis Bangsop bertaut. Kentara sekali ia berusaha menahan pikiran ‘tak habis pikir’.
Refleks, aku menoleh ke kabin penumpang. Kosong. Waduhh… Tinggal aku satu-satunya penumpang yang masih tersisa di jok depan. Pantas saja. Pasti tadi Bangsop mikir, “Kok nih anak ngga’ turun-turun sih?”
Kendati demikian, aku berusaha memasang tampang lugu, imut, tak bersalah dan… (apa aja deh yang bisa dipasang!). “Emm, katanya ke Limau Manis naik mobil ijo, Bang?”
“Memang warnanya sama, tapi kalau ke Limau Manis kode mobilnya bukan ini,” katanya─yang menurutku nada pengucapannya lebih cocok untuk anak berumur tak lebih dari tujuh tahun. Malu sudah tentu, tapi aku cuma senyam-senyum saja sambil menunggu Bangsop mengambil tindakan selanjutnya. (Mau diapain nih gue?)
Ia lalu menurunkanku di tepi jalan dan membantu menyetop angkot bertuliskan ‘Lubeg’ di kaca depannya. Sepanjang perjalanan aku mengutuki diri sendiri. Haduhhh… Masa’ segede gini masih doyan nyasar. Terlambat satu jam pula. Parah…
Mulai sekarang, aku tak mau lagi mudah percaya pada informasi orang. Verifikasi data yang biasa ditekankan para redaktur berita, juga harus mulai aku terapkan untuk memastikan benar atau enggaknya suatu informasi.
Kalau ada yang bilang, ‘ke Limau Manis naik mobil hijau’, maka perlu diverifikasi dulu ke sopirnya. “Apakah mobil ini benar-benar hijau, Bang?” (Nah…Lho???)




4 komentar:
wah, co2k jd wartawan neh..
pinter nulis.....
udah jadi mantan wartawan kok... mudah2an bisa nembus Batam pos besok.. hehehe
amiin..........
good luck yo Ka...
smangat......
Handeehhhh...........
kan lumayan tuw.....bisa lalala salakak deknyo
hahahahahaha........:-P
Posting Komentar