Mendung yang menyelimuti langit Minggu (28/6) pagi itu tak menyurutkan langkah 12 kru Ganto serta 9 anggota magangnya untuk menguak keindahan satu sudut Kota Padang. Dengan persiapan seadanya, bahkan beberapa ada yang hanya beralaskan sandal, kami bertolak dari sekre Ganto menuju daerah bernama Ulu Gadut. Jalanan yang dipenuhi genangan air akibat hujan semalaman bercipratan saat kami beramai-ramai menginjaknya menuju terminal. Meski berdesak-desakan
di dalam angkutan, canda dan tawa terus mengisi kabin penumpang tanpa malu-malu. Perjalanan yang menempuh jarak sekitar 20 KM dari pusat kota akhirnya mengantarkan kami pada daerah asri yang dipenuhi baris pepohonan rapat nan rimbun.
Sarasah, sebuah daerah perbukitan yang membentang di selatan Kota Padang menyimpan keindahan tersendiri. Perbukitan yang ditumbuhi bermacam pepohonan dan hamparan sawah hijau memiliki nilai estetika lebih yang jarang ditemukan di daerah lain di kota ini. Medan yang cukup terjal bahkan menurun curam semakin mempererat kekompakan di antara kru. Bebatuan kali yang licin−yang beberapa kali dilewati−berhasil membuat empat atau lima dari kami terpeleset. “Bantu… bantuuu...!” seru Kepala Litbang Ganto, Tia saat salah seorang kru terpeleset untuk kesekian kalinya. Beberapa jatuh dengan posisi mengiba hingga menggelitik perut sekalipun. Namun, sebelumnya kami melewati daerah persawahan serta menanjaki kebun karet yang tampak sepi. Jalan setapak yang becek dan berlumpur pun turut menghadang perjalanan. Sementara di kanan kirinya dipagari semak serta pepohonan yang menjulang. Jika tak berhati-hati, semak belukar serta tanaman yang mengakar liar dapat menjerat kaki hingga jatuh ke bibir jurang.
Kira-kira satu jam berselang, sorak sorai para kru menggaung diiringi desiran merdu air yang mulai terdengar. “Jangan berpencar! Tetap pada barisan,” sebagai pemimpin rombongan, Afdal memperingatkan. Sesampai di air terjun pertama, kami sempat berhenti dan menikmati desiran air menuruni lereng bukit berbatu. Menguapkan seluruh keletihan kru selama masa PKJTL-N lalu. Dengan semangat ’45, kami kembali memanjat tebing berlumut untuk sampai ke air terjun yang lebih tinggi. Hawa dinginnya yang menusuk membuat kami merapatkan jaket, sementara sebagian yang lain langsung menceburkan diri ke pemandian.
Menjelang matahari tenggelam, kami berkemas-kemas dan bergegas turun. Menuruni bukit terasa lebih singkat dan lebih mudah. Sementara terbuai di bawah langit jingga, hari-hari esok telah menanti untuk kembali berjuang. Ika/Windy




0 komentar:
Posting Komentar