Selasa, 09 Februari 2010

Catatan Kuliah Man Jadda Wajada

Menjadi mahasiswa di rantau orang barangkali tak pernah terpikir sulit bagi anak ingusan sepertiku dulu. Setelah merobek amplop kelulusan SMA dengan NIM “alhamdulillah” memuaskan, aku semakin antusias untuk melanjutkan menimba ilmu di Ranah Minang. Apalagi surat balasan formulir PMDK-ku ber-CTRL+B DITERIMA. Gagasan itu pertama kali kuajukan secara menggebu-gebu di depan kedua orangtua kala itu. Perdebatan yang kumulai selalu berbuntut cek cok.
Tak jarang, bunyi “brak” pintu kayu jati yang kubanting pun menjadi akhir bentuk protes. Setelah 3-4 jam lelah bersemedi di kamar, aku mengendap-endap ke kamar mandi untuk membasuh muka yang sembap.
Mereka kompak menentang mimpiku. Alasan yang kuanggap (pikiran jahat memang!) klise, “Finansial Ayah tak memadai, Nak.” Sebagai murid yang dikenal “cukup” teladan, aku mengadu ke Pihak Berwajib. Demi memenuhi surat panggilan, Ayah sampai rela izin tak masuk kerja satu hari (tentu saja, gajinya yang sehari juga ikut dipotong). Dengan jitu, Kepala Sekolahku mengeluarkan bujuk rayu skakmat yang membuat Ayah diam sejuta kata, mengangguk, dan tak berkutik. Pulang. Ayah menyampaikan kembali wejangan kepsek yang barusan diterimanya. Selesai mendengarkan sang suami, Ibu menoleh padaku, “Kapan mau berangkat?”
Shock, seolah tak percaya gendang telingaku masih normal. Aku menyambut pertanyaan Ibu dengan bibir mengembang sepuluh senti. Air mata yang kukorbankan selama nyaris setengah bulan terbayar. Ibu sudah berbalik arah 180 derajat menjadi setuju. Sementara Ayah kulihat masih bimbang. Pikirannya mungkin seperti gerak jarum timbangan berat badan yang overloaded.
Jadilah pada tanggal 26 Juni 2008, Mandala Airlines bertolak dari Bandara Hang Nadim Batam menuju Bandara Internasional Minangkabau Padang tepat pukul 11.25 WIB. Terwujud sudah satu mimpiku, menyentuh gumpalan kapas-kapas putih yang berarak di angkasa (meski sebenarnya pesawat yang menyentuhnya).
Malam ini, 5 Februari 2010 aku memandang sesosok wajah dari pantulan lingkaran cairan teh hijau tanpa gula yang kuaduk-aduk dalam gelas porselen putih. Menimbulkan bunyi denting merdu ketika pinggiran sendok teh menyepak dindingnya. Kedua bola mata di dalam lingkaran cairan itu menatapku. Aku merasa tatapannya menyentuh penuh harap. Tatapan yang kukira dari sebentuk wajah yang mulai keriput. Tiba-tiba, ucapan Ayah berkelebat di memoriku, “Matamu sama dengan mata Ibumu.”
Aku terkesiap saat kumandang adzan Isya’ menyapu ruangan dapur. Sosok nun jauh di sana pastilah sedang membisikkan doa untuk anaknya. Aku menyeruput minumanku yang masih hangat dan bergegas mengambil air wudhu. Sebuah notebook yang tergeletak di atas kasur sedang menungguku. Aku akan menulis nanti. Batinku. Menulis tentang mimpi-mimpiku. Bahwa suatu saat, aku akan menggenggam langsung butiran-butiran kapas putih yang jatuh dari langit. Aku yakin dan semua orang harus percaya, Man Jadda Wajada. Oh, Tuhan… Kumohooon… Kabulkanlah permintaan hamba-Mu iniiiiii... (*)

Ika Sri Sulfiana, Mahasiswa UNP

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More