“Libur t’lah tiba, hore, hore!” Begitu kata penyayi cilik Tasya (he, basi kali!). Kebanyakan pelajar/mahasiswa─jika tak semua─pasti menanti-nantikan momen bahagia ini. Mereka bisa memilih berkumpul bersama keluarga masing-masing ataupun liburan bersama d’Genk. Pokoknya asalbisangerefreshotakgue. Bagi yang punya saku “XXL+” tanpa minus, mungkin akan memilih liburan ke luar negeri. Bagi level menengah, cukuplah berlibur ke wisata nagari terdekat.Tapi, bagi level bawaaaaah banget (kasihan ya… ck ck ck!) dijamin akan memilih adem ayem di kamar kos/kontrakan.
Contohnya saja aku. Meski harus menahan rindu tak bisa bersua ayah dan ibu lantaran Dewi Fortuna tak mengizinkan, aku tetap bisa menikmati masa libur kuliah. Bahkan aku sempat menyaksikan beberapa peristiwa di waktu dan ruang yang berseberangan. Sulit dipercaya? Tapi percayalah maka anda akan percaya (lho???).
Berikut kronologinya. Beberapa waktu lalu, aku berkunjung ke Pondok Madani, sebuah pesantren putra di pelosok Gontor, Jawa Timur. Di sana aku menyaksikan seorang anak laki-laki dengan mantra Man Jadda Wajada berhasil menaklukan mimpi. Tekadnya sekeras baja, seberat timah, tahan karat bak stainless steel (apaan sih?). Pokoknya gitu deh. Yang terpenting dalam hidup adalah niat, kerja keras, dan tawakal.
Hari berikutnya, aku menerobos ke masa 19 abad silam. Ke sebuah kota indah bernama Pompeii, yang berdiri pada masa kekaisaran Romawi. Kota ini berhadapan langsung dengan Teluk Neapolis yang cantik, apalagi saat dihiasi semburat jingga langit senja. Kota ini ditemukan secara tak sengaja oleh seorang arsitek setelah terkubur dalam lapisan abu dan batu selama 16 abad akibat letusan Gunung Vesuvius pada hari Jupiter, 24 Agustus 79 M. Menurut cerita, kota ini merupakan pusat kemaksiatan dan prostitusi. Aktifitas seksual bukan hal tabu untuk dipertontonkan dan diperbincangkan. Terlihat dari banyaknya lukisan dinding (fresco) erotis yang ditemukan setelah penggalian selama ratusan tahun.
Terakhir, aku bertandang ke beberapa kota besar di Negeri Kincir Angin. Seperti Rotterdam, Utrecht, Wageningen, Leiden, dan Den Haag. Konstruksi bangunan-bangunan tua yang menjulang mengapit jalanan yang berkelok-kelok seakan membawa kita ke masa Eropa Lama. Intinya, cukup bermodalkan buku kita bisa menerobos ruang dan waktu sesuka hati. So, owe it soon!
Ika Sri Sulfiana, Mahasiswa UNP




1 komentar:
mantab,dahsyat n bagus.
aku juga pernah mengalaminya.
Posting Komentar