Jumat, 12 Maret 2010
06.29 WIB
Aaahh... Senang rasanya bisa menjajah jalanan. Menyeberang ke jalur kanan, ke tengah, ke kiri, terus ke tengah lagi. Tanpa bakal ditegur klakson kendaraan yang seakan menghardik, Hoi, MINGGIR!. Kadang-kadang si Pengendara ga lupa menyemprot si Pejalan Kaki yang hampir ditabraknya.
Pagi ini, jalanan kampus masih lengang. Bunyi cempreng mesin sebuah sepeda motor tua terdengar kepayahan memompa piston. Pengendaranya seorang bapak-bapak gendut. Terbungkus jaket hitam tipis yang kelihatan licin. Beberapa mahasiswa pun tampak berjalan santai. Melewati pohon-pohon yang belum muncul bayangannya. Damai. Udara yang kurasa masih agak bersih mengembungi alveolus.
Aku berjalan perlahan sambil menendangi kerikil. Pandangan mengarah ke jalan tapi ga benar-benar memandangnya. Tiga puluh satu menit lagi kelas praktikum dimulai. Kelas yang betul-betul (+betul) bikin kesal. Per minggu, setidaknya empat laporan praktikum mesti selesai. Salah satunya harus pakai endnote dan dikirim via e-mail. Pfhuhh... Ditambah lagi asisten dosen yang banyak maunya.
Kuliah. Praktikum. Tugas. Bangun. Subuh. Pulang. Sore. Malam. Begadang. Kadang. Aku. Bosan.
06.36 WIB
Setelah melirik jam hape--di bawah naungan langit pagi--sel-sel otak mencoba mengatakan suatu kerisauan dengan bahasa sinyalnya. Kira-kira begini terjemahannya;
Mempelajari alam membuatku semakin merasa I am being nothing . Seperti menelusuri lorong penuh berlian mahaindah. Tak pernah aku mengerti bagaimana berlian itu tercipta. Yang aku tahu hanya bahwa benda itu memantulkan cahaya dengan sangat indah, jumlahnya ga berhingga dan lorongnya ga berujung. Terlalu banyak (baca: mahabanyak) hal-hal yang ga aku mengerti dan mungkin ga kan pernah bisa aku mengerti.
Contoh paling kecil, dulu Dalton bilang atom itu ga terbagi. Tapi sekarang partikel itu dicincang jadi tiga: elektron, proton, neutron. Lalu, siapa yang bisa menjamin kalau dalam seratus tahun mendatang, ketiga muatan itu ga akan ikut dicincang?
Atau, kenapa orang bisa mengalami de ja vu? Apa karena dia pernah diciptakan sebelumnya? Atau, tentang alam semesta. Jika dia memiliki batas, lalu ada apa di luar batas itu?
Atau, kenapa manusia hanya bisa mencapai dimensi tiga? Bisakah manusia menembus dimensi waktu dengan cara menyedot energi alam? Kembali ke masa lalu atau menuju masa depan?
Alam semesta menyimpan rahasia segala rahasia. Alam memiliki jiwa dan kita hanya perlu memercayainya. Manusia memang diberi pengetahuan terbatas, tapi bukankah dengan melihat tanda-tanda-Nya akan membuat kita semakin mengenal-Nya?
07.03 WIB
Sehabis curhat, sel-sel otak berhenti mendengung. Ia kemudian memerintah kaki untuk memanjat tangga naik ke lantai tiga lab.kimia. Dan mengisyaratkan bagian sel lainnya untuk menghadapi kuis praktikum hari ini. (*)




0 komentar:
Posting Komentar